English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified twitterfacebookgoogle plusrss feedemail

Korupsi jangan dijadikan budaya! Pilih pemimpin yang cinta rakyat, bukan cinta kekuasaan! Bagian Iklan Hubungi (021)27101381 - 081385386583


Informasi berita tentang kandidat caleg, pemilukada dan pilpres di Indonesia - Kontak Redaksi: (021)271.01.381 - (021)606.36235, Hotline: 08787.882.1248 - 081.385.386.583

Minggu, 19 Januari 2014

Caleg DPR Yang Berhenti Merokok Karena Sindiran Anak

Mantan Bupati Ini Jadi Caleg DPR RI Jateng V

Bambang-Riyanto-dan-Rekanan-dari-Partai-Gerindra
Ketika sedang berkunjung ke Solo, Kamis lalu (16/01/14) untuk menjemput liburan sekolah anak penulis siapa sangka bisa mendapat beberapa caleg sekaligus untuk diwawancarai.


Dua caleg dari partai Gerindra sebagai awal yang bagus, saya dapatkan saat menyusuri Kota Surakarta dengan berjalan kaki.

Sudah tekad saya agar bisa mengenal caleg yang asli tinggal di Kota Surakarta dan sekitarnya, baik DPRD di tingkat Kota atau Kabupaten maupun provinsi Jawa Tengah dan DPR RI.


Ternyata keberuntungan masih berpihak kepada penulis, setelah mewawancarai satu orang caleg DPRD Kota Surakarta (Solo) dari partai Gerindra, dia kemudian membawa dan mengenalkan saya kepada caleg DPR RI dari partai Gerindra dapil Jateng V dengan nomor urut 1, yakni mantan Bupati Sukoharjo, Bambang Riyanto, SH, MH, MSi.


Keluarga Bambang Riyanto, ki-ka: Yoshua Sindhu (putra sulung) & istri
Dan siapa yang menyangka jika pertemuan saya tersebut malah membawa saya kepada fakta sebuah keluarga yang semuanya terjun ke dunia politik, hampir mirip dengan isyu dinasti politik yang tengah hangat dibicarakan, semenjak kasus Atut, Gubernur Banten mencuat di media.

Sang mantan Bupati Sukoharjo ini, Bambang Riyanto beserta anak sulung, Yoshua Sindhu Riyanto terjun menjadi caleg dari partai Gerindra baik untuk DPR RI dan DPRD Kota Surakarta.

Jika sebelumnya punya kesempatan meski tidak khusus berbincang setelah mendapat peluang waktu mendengarkan cerita bagaimana startegi alokasi dana kampanye politik dari kantong pribadi dinasti Bambang Riyanto jka diandingkan caleg lain baik yang inkamben (incumbent) maupun mereka yang mungkin lebih punya dana besar.

"Jika menghadapi lawan politik yang lebih bodoh dan dan tidak lebih kaya, mungkin kami tak punya masalah berarti," ungkap Bambang dengan santai, "Namun yang jadi masalah adalah jika lawan politik kami itu jauh lebih pintar dan juga lebih banyak punya dukungan finansil," paparnya sambil tertawa.

Terlepas dari anekdotnya tersebut, Bambang Riyanto memang terkesan menyenangkan saat memaparkan pendapat dan ide-ide cemerlang serta terbukanya bagaimana mengalokasikan dana kampanye yang sehat dan bebas dari segala resiko kerugian besar karena kampanye dan sosialisasi yang blunder.

"Kalau mau tahu siapa yang pertama kali melakukan 'blusukan' tentu bukannya Jokowi seperti yang sekarang digembar-gemborkan banyak media," jelas Bambang serius dan tersenyum renyah, "Sejak saya menjabat bupati dari awal tahun 2000 - 2005 dan 2010, saya sudah sering melakukan blusukan ke daerah-daerah yang jauh hingga ke desa di pelosok pegunungan."

Jika benar hal yang disampaikan oleh BR, panggilan akrab Bambang Riyanto, maka ini adalah fakta bahwa Jokowi hanyalah meniru dari banyak pendahulunya.

Ketika BR mengatakan dirinya pensiun di usia 51 tahun, berarti dia sudah menjabat jadi bupati pada usia 41 tahun, yang berarti BR adalah salah satu pejabat publik berusia muda saat itu. Wajar saja jika saat ini dia menularkan semangat berpolitik kepada istri dan anak sulungnya yang kini memasuki usia 23 tahun di pemilu 2014 kali ini.

Baik sang istri, Titik Suprapti yang juga menjabat jadi Ketua DPC Gerindra Sukoharjo maupun anak sulungnya, Yoshua Sindhu tidak pernah dipaksa oleh dirinya sebagai kepala rumah tangga. "Kami menganggapnya sebagai aktivitas keluarga," ujarnya kepada media.

Sang anakpun, Yoshua Sindhu pada kesempatan yang sama mengatakan, "Papa selalu mengajarkan bahwa jabatan di bidang politik itu bukanlah pekerjaan untuk mencari nafkah, namun lebih cenderung kepada pengabdian." ujar peraih gelar S1 di bidang hukum dan sedang meraih gelar S2 dalam waktu dekat ini.

Bagai gayung bersambut, BR menimpali, "Jika dia ingin bekerja untuk menafkahi diri dan keluarganya kelak, dia bisa ambil usaha saya sebagai ayahnya, atau usaha mamanya," bebernya mengenai usaha bisnis yang dijalankan keluarganya.

Melihat kekompakan ayah dan anak ini, penulis melihat bahwa hal ini adalah nilai positif dari efek dinasti politik seperti halnya keluarga Kennedy, presiden AS yang terkenal itu.

Jika pada masa lalu, BR pernah terlibat beberapa masalah yang berkaitan dengan dugaan korupsi pengadaan sepeda motor buat anggota DPRD Kabupaten Sukoharjo, maka tampaknya BR tidak mempedulikan itu sebagai hambatan. Terbukti ketika perjumpaan dengan kandidat-kandidat.com, dengan penuh antusiasme, BR menjelaskan bagaimana alokasi strategi penyaluran dana kampanye yang secara proporsional dibagikan kepada kepentingan konstituen sebagai suara pendukung.

Ada hal istimewa yang tak bakal banyak dibuka oleh para caleg khususnya caleg inkamben tentang dana aspirasi yang menjadi hak para konstituen daerah pemilih sang anggota dewan. Meski hal ini biasanya dirahasiakan dan tabu buat para anggota dewan untuk dibicarakan apalagi yang berkaitan dengan suksesi jabatannya sebagai wakil rakyat yang pada puncaknya akan mereka peroleh di masa kampanye.

BR juga memaparkan bagaimana seharusnya para caleg yang baru pertama kali terjun ke dunia politik, karena pengalamannya sebagai eksekutif sedikit banyak membuka sedikit bocoran bagaimana dia harus berkampanye dan memenangkannya.

Salah satu kiat yang harus dimiliki setiap kandidat adalah diperlukan kemampuan komunikasi politik yang mumpuni. Berbekal ilmu hukum dan kebijakan publik, Yoshua memberanikan diri bertarung pada pileg 2014 mendatang.

“Saya pikir harus ada wajah baru yang dapat memberikan warna baru di dunia politik Sukoharjo. Karena masih muda, saya juga memiliki idealisme yang kuat,” aku mahasiswa S2 Kebijakan Publik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo itu kepada wartawan media.

Bambang Riyanto mengatakan berkarier di dunia politik baginya bukan paksaan. Ia juga menampik anggapan biaya politik yang mahal. Baginya, bekal kedekatan dengan masyarakat harus dimanfaatkan dengan baik.

Saat sudah duduk di kursi parlemen, rakyat sebagai konstituen jangan sampai dilupakan. Ia menilai selama ini yang terjadi di lapangan adalah transaksi politik sehingga rakyat merasa dibeli.

Ada beberapa hal yang sangat merugikan jika para kandidat pemilu melakukan money politik atau membeli suara dengan cara membagikan uang kepada para konstituen atau melakukan serangan fajar pada saat menjelang beberapa hari pelaksanaan pemilu.

"Pertama, hal ini bisa menjadi tindak pelanggaran pemilu yang bisa dipidanakan jika ketahuan, kedua hal ini membuat biaya kampanye menjadi sangat mahal dan yang terakhir, tidak menjamin bagi setiap warga masyarakat yang telah diberi uang tersebut akan memilih atau mendukung secara penuh pada pemilu nanti," ungkap lelaki peraih 2 gelar S2 ini.

Itulah sebabnya, BR menjelaskan “Saya tidak pernah meminta kepada anak-istri untuk mengharapkan gaji dari politik. Saya juga tidak pernah menghitung berapa biaya politik yang saya keluarkan,” ujarnya tanpa menyebutkan nominal dana kampanye pemenangan dia dan putranya pada pemilu 2014 ini.


Namun hal terpenting yang disampaikan oleh BR adalah bagaimana bisa menjalin hubungan interaktif dengan warga masyarakat dari segala lapisan seperti yang dulu biasa dilakukannya meskipun harus blusukan ke pelosok kampung atau desa, karena rakyat yang bisa bertemu secara langsung dengan wakil mereka di dewan jauh lebih menghargai hubungan personal dibandingkan mereka mengenali sang calon wakil rakyat dari alat peraga seperti spanduk, baliho dan lainnya, demikian pungkas lelaki yang kerap membetulkan letak kacamatanya ini.

Di akhir kontak dengan kandidat-kandidat.com, BR juga menegaskan konsep sosialisasi dan kampanyenya dia tidak menerapkan komunikasi satu arah via media dunia maya, "Saya lebih suka bersosialisasi langsung bertemu dengan para calon pemilih saya dan memberikan pengertian bagaimana sebenarnya tugas-tugas seorang caleg ketika berkampanye dan apa saja yang menjadi kewajiban anggota dewan." pungkasnya kepada kandidat-kandidat.com.

Sidik Rizal - webrizal.com

Tidak ada komentar:

Kami akan menghapus komentar yang:

Tak sopan, memakai HURUF BESAR, berupa caci maki, mengandung kata-kata kebun binatang, debat kusir, provokasi, di luar konteks, berupa undangan/ reklame.

Komentar yang terlalu panjang, tanpa paragraf dan sulit dipahami.

Komentar copy-paste, silakan di-link saja.

Harap maklum.

Link Web Kami

Google+ Followers